Monday, June 29, 2009

Ayah Juga Lupa

We learned that there was seriously bad habit in too much asking others to do what we want. More often, we wonder why they can’t understand what we want, and we frequently think it’s sensibly that they do what we suppose it’s good. Is that the case? I doubt it. Instead, understand them, trying to acknowledge why others do such things, and it will eventually lead to better understanding, hopefully. Here, I attached an article that’s good for us to realize about how important it is, I mean to do so. Take a sincere read!

Ayah Juga Lupa

By W. Livingstone Larned

Dengar Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu , ketika ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringannmu.

Ada hal-hal yang ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika engkau berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau Cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah saat kau melemparkan beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Begitu kau baru mulai bermain dan ayah berangkat hendak mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, ‘Selamat jalan Ayah!’ dan ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, ‘Tegakkan bahumu!’

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore harinya. Begitu ayah muncul dari jalan, ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang dari kepala hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaos kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk masuk ke rumah. Kaos kaki mahal—dan kalau kau yang harus membelinya, tentu kau akan lebih berhati-hati!! Bayangkan Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah.

Apakah kau ingat nantinya, ketika ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka di matamu. Ketika ayah terus memandangi koran, tidak sabar dengan gangguanmu, kau jadi ragu-ragu berdiri di depan pintu, ‘Kau mau apa?’ semprot ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah ayah, lalu kau melemparkan tanganmu melingkari leher dan mencium ayah, jari-jari tanganmu yang kecil semakin memeluk erat dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk selalu mekar di hatimu, bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya. Kemudian kau melepaskan pelukan dan bergegas pergi menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah koran itu jatuh dari genggaman ayah, satu rasa takut yang menyakitkan menerpa ayah. Kebiasaan apa yang sudah ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca. Ini adalah hadiah ayah untukmu sebagai anak lelaki. Bukan berarti ayah tidak mencintaimu, ayah lakukan ini karena ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah dating ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan ayah sudah berlutut disana dengan rasa malu.

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah. Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari ayah akan menjadi ayah sejati. Ayah akan menjadi sahabat karib bagimu. Ikut menderita bila kau menderita dan ikut tertawa jika engkau tertawa. Ayah akan menggigit lidah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut ayah. Ayah akan mengucapkan kata-kata ini seolah-olah ini adalah sebuah ritual: ‘Dia cuma seorang anak kecil, anak lelaki kecil.’

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun saat ayah memandangmu saat ini, Nak, kau meringkuk berbaring dan letih di atas tempat tidurmu. Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih berada dalam gendongan ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak!

Quoted by noerhidajat

Source: How to Win friend and influence people

Author: Dale Carnegie

No comments: